Masuknya Islam
di Indonesia masih bisa diperdebatkan. Pengertian “masuk” antara lain dalam
arti:
a. sentuhan
(ada hubungan dan ada pemukiman Muslim).
b. sudah
berkembang adanya komunitas masyarakat Islam.
c. sudah
berdiri kerajaan Islam.
Bukti masuknya
Islam di Indonesi abad ke 7,11 dan 13
1. a. Seminar masuknya Islam di Indonesia
(di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalanan Al Mas’udi, yang menyatakan
bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung
ke Kalingga. Pada tahun 648
diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.
b. Dari Harry W.
Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin
masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim
yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China. Dll.
2. Catatan perjalanan Marcopolo ( 1292 M ) dan beberapa sarjana
barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan Schrieke, lebih cenderung
menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan sudah
adanya beberapa kerajaaan Islam di kawasan Indonesia
3. Berita Ibnu Batutah
Di
Sumatra ditemukan batu nisan Sultan Malik al-Saleh yang bertulis Ramadhan 676
Hijriah (1297M). Malik al-Saleh adalah pengajar
Tasawuf juga Raja.
Bangsa Arab, Persia, India dan China memiliki andil besar
dalam mensyiarkan dan mengembangkan Islam di Nusantara.
a.
Gujarat (India)
Pedagang Islam dari Gujarat, menyebarkan Islam dengan bukti-bukti antara
lain :
1. Ukiran batu nisan gaya Gujarat.
2. Adat istiadat dan budaya India
Islam.
b. Persia
Para pedagang Persia menyebarkan Islam dengan beberapa bukti
antar lain :
1. Gelar “Syah”
bagi raja-raja di Indonesia.
2. Pengaruh aliran
“Wihdatul Wujud” (Syeh Siti Jenar).
3. Pengaruh madzab
Syi’ah (Tabut Hasan dan Husen).
c. Arab
Para pedagang Arab banyak menetap di pantai-pantai
kepulauan Indonesia, dengan bukti antara lain:
1.
Menurut al Mas’udi pada tahun 916 telah
berjumpa Komunitas Arab dari Oman, Hidramaut, Basrah, dan Bahrein untuk
menyebarkan Islam di lingkungannya, sekitar Sumatra, Jawa, dan Malaka.
2.
Munculnya nama “kampung Arab” dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat,
yang banyak mengenalkan Islam.
d. China
Para pedagang
dan angkatan laut China (Ma Huan, Laksamana Cheng Ho/Dampo awan), mengenalkan
Islam di pantai dan pedalaman Jawa dan Sumatera, dengan bukti antar lain:
1.
Gedung Batu di Semarang (masjid gaya China).
2.
Beberapa makam China muslim.
Beberapa
wali yang dimungkinkan keturunan China.
BAB II
1.
Kerajaan Islam di Jawa
a. Kesultanan
Demak atau Kesultanan Demak Bintara adalah kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh
Raden Patah pada tahun 1478 dan tercatat menjadi pelopor
penyebaran agama Islam di pulau
Jawa dan Indonesia pada umumnya. Kesultanan Demak
mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan di antara kerabat
kerajaan. Salah satu
peninggalan bersejarah Kesultanan Demak ialah Mesjid Agung
Demak, yang
diperkirakan didirikan oleh para Walisongo. Lokasi ibukota Kesultanan Demak, yang pada masa itu
masih dapat dilayari dari laut dan dinamakan Bintara, saat ini telah
menjadi kota Demak di Jawa Tengah.
b. Kesultanan Banten merupakan
kerajaan Islam yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Menurut sumber Portugis,
sebelumnya Banten merupakan salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda selain
pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang), Sunda Kalapa dan Cimanuk. Kerajaan
Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah
atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan
Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju
pesat. Wilayah kekuasaannya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut
kesultanan Mataram dan serta wilayah yang sekarang menjadi provinsi Lampung.
Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi Lampung dikuasai
oleh kesultanan Banten.
c. Kesultanan Mataram merupakan kerajaan
Islam di Jawa yang didirikan oleh Sutawijaya, keturunan dari Ki Ageng
Pemanahan yang mendapat
hadiah sebidang tanah dari raja Pajang, Hadiwijaya, atas jasanya. Kerajaan Mataram pada masa keemasannya
dapat menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya termasuk Madura serta meninggalkan
beberapa jejak sejarah yang dapat dilihat hingga kini, seperti wilayah Matraman di Jakarta dan sistem persawahan di Karawang.
2. Kerajaan Islam di Sumetera
a. Kesultanan Samudera Pasai dikenal juga dengan Samudera Pasai, atau Samudera
Darussalam, merupakan kerajaan Islam yang terletak
di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara sekarang.
Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Malik
al-Saleh, pada sekitar tahun 1267 dan berakhir dengan dikuasainya Pasai oleh Portugis pada tahun 1521. Raja pertama
bernama Malik as-Saleh, kemudian dilanjutkan pemerintahannya oleh Malik
at-Thahir. Setelah mati, ia digantikan oleh
Sultan Mahmmud Malik az-Zahir.
b. Kesultanan Malaka
merupakan kesultanan yang didirikan oleh Parameswara, seorang putera Sriwijaya yang melarikan diri dari perebutan Palembang oleh Majapahit. Pada 1402, dia mendirikan sebuah ibu
kota baru, Melaka yang terletak pada penyempitan Selat
Malaka. Pada
1414, dia berganti menjadi seorang Muslim dan menjadi Sultan Malaka. Kesultanan ini berkembang pesat
menjadi sebuah entrepot dan menjadi pelabuhan terpenting di
Asia Tenggara pada abad
ke-15 dan awal 16. Kegemilangan yang dicapai oleh Kerajaan Melaka adalah
daripada beberapa faktor yang penting. Diantaranya,
Parameswara telah mengambil kesempatan untuk menjalinkan hubungan baik dengan
negara Cina ketika Laksamana Yin Ching mengunjunginya.
c. Kesultanan Aceh merupakan kerajaan yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat
Syah pada tahun 1496. Diawal pemerintahannya wilayah Kesultanan Aceh berkembang
hingga mencakup Daya, Deli, Pedir, Pasai, dan Aru. Pada tahun 1528, Ali
Mughayat Syah digantikan oleh putera sulungnya yang bernama Salahuddin, yang
kemudian berkuasa hingga tahun 1537. Kemudian Salahuddin digantikan oleh Sultan
Alauddin Riayat Syah al-Kahar yang berkuasa hingga tahun 1568. Kesultanan Aceh mengalami masa
keemasan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636).
3. Kerajaan Islam di Sulawesi
a. Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan
nama Bate Salapang (Sembilan Bendera), yang kemudian menjadi pusat kerajaan
Gowa: Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero
dan Kalili. Melalui berbagai cara, baik damai maupun paksaan, komunitas lainnya
bergabung untuk membentuk Kerajaan Gowa. Masing-masing kerajaan tersebut
membentuk persekutuan sesuai dengan pilihan masing-masing. Salah satunya adalah
kerajaan Gowa dan Tallo membentuk persekutuan pada tahun 1528, sehingga
melahirkan suatu kerajaan yang lebih dikenal dengan sebutan kerajaan Makasar.
Nama Makasar sebenarnya adalah ibukota dari kerajaan Gowa dan sekarang masih
digunakan sebagai nama ibukota propinsi Sulawesi Selatan.
b. Faktor-faktor penyebab
Kerajaan Gowa Tallo berkembang menjadi pusat perdagangan, sebagai berikut:
1. Letaknya strategis yaitu sebagai penghubung
pelayaran Malaka dan Jawa ke Maluku.
2. Letaknya di muara sungai, sehingga lalu lintas
perdagangan antar daerah pedalaman berjalan dengan baik.
3. Di depan pelabuhan terdapat gugusan pulau
kecil yang berguna untuk menahan gelombang dan angin, sehingga keamanan
berlabuh di pelabuhan ini terjamin.
4. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis mendorong
para pedagang mencari daerah atau pelabuhan yang menjual belikan rempah-rempah.
5. Halauan politik Mataram sebagai kerajaan
agraris ternyata kurang memperhatikan pemngembangan pelabuhan-pelabuhan di
Jawa. Akibatnya dapat diambil alih oleh Makasar.
6. Kemahiran penduduk Makasar dalam bidang
pelayaran dan pembuatan kapal besar jenis Phinisi dan Lambo.
4. Kerajaan Islam di Maluku
Kerajaan
Ternate dan Tidore, sebelah barat pulau Halmahera. Kerajaan ini terletak di kepulauan
Maluku, di wilayah ini terdapat dua persekutuan yaitu:
a. Ulilima (pulau Obi, Bacan, Seram,Ambon, Ternate pemimpinnya).
b. Ulisiwa (pulau Makyan, Jailolo,
dansekitar Irian Barat yang di pimpin oleh Tidore.
Kehidupan politik kerajaan
Ternate dan Tidore, merupakan adanya Persaingan antar Ulilima dan Ulisiwa bersaing menguasai Maluku.
Kehidupan Ekonomi Kerajaan Ternate dan Tidore:
a. Ternate-Tidore berkembang sebagai
kerajaan Maritim.
b. Penghasil komoditi perdagangan
rempah-rempah.
c. Kedatangan pedagang Ternate, Jawa,
Melayu,pedagang Arab.
Kehidupan Sosial Budaya
Kerajaan Ternate dan Tidore:
1). Islam berkembang di Maluku,
2). Seni Bangunan Mesjid dan Istana Raja,
3). Agama Katolik juga berkembang,
4). Jumlah perahu (kora-kora),
5). Keanekaragaman agama.
BAB III
1. Walisongo
Walisongo merupakan nama sebuah dewan yang
beranggotakan 9 orang. Anggotanya termasuk orang-orang pilihan dan
oleh karena itu oleh orang jawa dinamakan wali. Istilah wali berasal dari
bahasa arab aulia, yang artinya orang yang dekat dengan Allah Subhaanahu wa
ta’aala karena ketakwaannya. Sedangkan istilah songo merujuk kepada penyebaran
agama Islam ke segala penjuru. Orang jawa mengenal istilah kiblat papat limo
pancer untuk menggambarkan segala penjuru, yaitu utara-timur-selatan-barat
disebut keblat papat dan empat arah diantaranya ditambah
pusat disebut limo pancer.
1. Maulana Malik Ibrahim
2. Sunan Giri
3. Sunan Bonang
4. Sunan Ampel
5. Sunan Drajat
6. Sunan Muria
7. Sunan Gunung Jati
8. Sunan Kudus
9. Sunan Kalijaga
Para Wali berperan besar dalam
pengembangan pewayangan di Indonesia. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat
berjasa dalam mengembangkan Wayang. Bahkan para wali di Tanah Jawa sudah
mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa
Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang
Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain yaitu “Mana
yang Isi (Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) dan mana yang harus
dicari (Wayang Golek)”.
Di samping menggunakan wayang
sebagai media dakwahnya, para wali juga melakukan dakwahnya melalui berbagai
bentuk akulturasi budaya lainnya contohnya melalui penciptaan tembang-tembang
keislaman berbahasa Jawa, gamelan, dan lakon islami.
2. Abdur Rauf Singkel
Abdur Rauf Singkel
merupakan seorang ulama, penyair, budayawan, ulama besar, pengarang tafsir,
ahli hukum, cendikiawan muslim dan seorang Sufi Melayu dari Fansur, Singkel, di
wilayah pantai barat-laut Aceh. Nama lengkapnya Abd Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri
as-Sinkili.
Pendidikan As-Sinkili di masa kecil ditangani oleh ayahnya-seorang
alim yang mendirikan madrasah dengan murid-murid berasal dari pelbagai tempat
di Kesultanan Aceh. Ia lantas pergi ke Banda Aceh untuk berguru kepada Syam
ad-Din as-Samartrani. Pada tahun 1052/1642, as-Sinkili mengembara ke Tanah
Haram untuk menambah pengetahuan agama sekaligus menunaikan ibadah haji.
As-Sinkili merupakan ulama yang sangat produktif. Tidak kurang dari 30 kitab dari pelbagai
disiplin ilmu telah dihasilkan. Karya tulisnya yang diketahui lebih kurang dua puluh buah
dalam berbagai bidang ilmu-sastra, hukum, filsafat, dan tafsir.
Karya-karya tulis Abdurrauf Singkel diklasifikasikan sebagai berikut:
a.
Bidang fiqh
1. Mir’ah
at-Tullâb fî Tashîl Ma’rifah al-Ahkâm asy-Syar’iyyah li al-Mâlik al-Wahhâb
2. Bayân al-Arkân,
Bidâyah al-Bâligah, dan sebagainya
b. Bidang tasawuf
1. ‘Umdah
al-Muhtâjîn ilâ Sulûk Maslak al-Mufarridîn
2. Daqâ’iq
al-Hurûf
3. Tanbîh al-Mâsyi
al-Mansûb ilâ Tarîq al-Qusyasyi, dan sebagainya
c. Bidang hadits
1. Syarh Latîf
‘ala ‘Arbain Hadîŝan lî al-Imâm an-Nawâwi
2. al-Mawâ’iz
al-Badî’ah
d. Bidang tafsir Al-Qur’an
1. Tarjumân al-Mustafîd bi al-Jâwwiyy.
Peran Abdurrauf
Singkel dalam mensyiarkan Islam di Indonesia antara lain: menjadi pelajar
yang gigih, menjadi ulama
yang produktif dalam pelbagai disiplin ilmu dan membuat
karya tulis dalam berbagai disiplin ilmu bidang ilmu-sastra, hukum,
filsafat, dan tafsir.
Keteladanan
yang dapat diambil dari Abdurrauf
Singkel antara lain: semangat tinggi dalam belajar (beliau
menuntut ilmu sampai ke Tanah Haram), Ulama yang sangat produktif (sebagai buktinya 30 kitab telah dihasilkan dari pelbagai
disiplin ilmu dan Ahli dalam
berbagai disiplin ilmu sebagai buktinya adanya karya tulis lebih kurang dua puluh buah
dalam berbagai bidang ilmu-sastra, hukum, filsafat, dan tafsir.
3. Muhammad Arsyad al-Banjari
Syekh Muhammad
Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari (atau lebih dikenal dengan nama
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang lahir di Lok Gabang, Astambul, Banjar, Kalimantan Selatan, 17 Maret 1710 – meninggal 3
Oktober 1812 pada umur 102 tahun) adalah ulama fiqih mazhab
Syafi'i yang berasal
dari kota Martapura di Tanah
Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Beliau pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi para
pemeluk agama Islam di Asia
Tenggara.
Pendidikannya ketika kecil tidak begitu
jelas, tetapi pendidikannya dilanjutkan ke Mekkah dan Madinah. Di Mekkah sekitar
30 tahun dan di Madinah sekitar 5 tahun. Syekh Muhammad
Arsyad al-Banjari mendapat pendidikan penuh di Istana sampai usia 30 tahun.
Kemudian ia dikawinkan dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut.
Hasil perkawinan tersebut ialah seorang putri yang diberi nama Syarifah.
Di Tanah Suci,
Muhammad Arsyad belajar kepada masyaikh terkemuka pada masa itu, di antara guru beliau adalah:
a. Syekh
‘Athoillah bin Ahmad al-Mishry,
b. al-Faqih Syekh
Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi 3.
c. al-‘Arif Billah
Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani merupakan guru
Muhammad Arsyad di bidang tasawuf, dimana di bawah bimbingannya Muhammad Arsyad
melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan
sebagai khalifah.
Kitab karya
Syekh Muhammad Arsyad yang paling terkenal ialah Kitab Sabilal Muhtadin, atau
selengkapnya adalah Kitab Sabilal Muhtadin lit-tafaqquh fi amriddin,
yang artinya "Jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk
mendalami urusan-urusan agama". Syekh Muhammad Arsyad telah menulis untuk
pengajaran serta pendidikan, beberapa kitab serta risalah lainnya, diantaranya:
a. Kitab
Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Dua puluh,
b. Kitab Tuhfatur
Raghibin, yaitu kitab yang membahas soal-soal itikad serta perbuatan yang
sesat,
c. Kitab Nuqtatul
Ajlan, yaitu kitab tentang wanita serta tertib suami-isteri,
d. Kitabul
Fara-idl, semacam hukum-perdata.
Peran Muhammad Arsyad al-Banjari dalam perkembangan Islam di Indonesia, antara lain:
a. Sebagai orang yang gigih dalam menuntut ilmu sampai ke Mekkah
dan Madinah
b. Sebagai pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia
Tenggara.
c. Mensyiarkan Islam sampai ke Asia
Tenggara.
Keteladanan
yang dapat diambil dari Muhammad Arsyad al-Banjari, antara lain :
a.
Semangat tinggi dalam menuntut ilmu.
b.
Rajin dalam menulis buku
Mensyiarkan
Islam sampai ke Asia
Tenggara.
Peran KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari
1.
KH. Ahmad Dahlan
KH. Ahmad Dahlan
merupakan Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari
keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar
Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H.
Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu
Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.
Silsilah
beliau termasuk keturunan yang kedua belas
dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang
yang terkemuka diantara Wali
Songo, yang
merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa
(Kutojo dan Safwan, 1991). Pada umur 15 tahun, beliau pergi haji dan tinggal di
Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai
berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid
Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad
Dahlan.
Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Mekah
dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, beliau sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, K.H. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.
Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai
Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang
Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah.
KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan
kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik
Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan
Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut:
a. KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori
kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang
masih harus belajar dan berbuat;
b.
Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah
banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang
menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan
dasar iman dan Islam;
c.
Dengan organisasinya, Muhammadiyah
telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi
kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan
d.
Dengan organisasinya, Muhammadiyah
bagian wanita (Aisyiyah) telah
mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan
berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.
Peran KH.
A. Dahlan dalam perkembangan Islam di Indonesia, antara lain:
a. Mendirikan organisasi Muhammadiyah
b. Mempelopori kebangkitan ummat Islam
untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan
berbuat.
c. Memiliki gagasan pembaharuan
Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke
berbagai kota.
d. Mengajukan
permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan
hukum. Permohonan
itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81
tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi
ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta.
e.
Mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk
mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini
dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.
Sekilas
tentang Muhammadiyah, Muhammadiyah menyebar ke seluruh wilayah
Indonesia dengan membawa al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad. Muhammadiyah, begitu
orang kebanyakan menyebut, merupakan sebuah gerakan sosial-agama yang mampu membumikan makna Islam pada tataran
kultural, rasional dan dinamis. Amal usaha nya telah banyak terlihat sebagai
bukti adanya organisasi Muhammadiyah. Masjid, Rumah sakit, sekolah, perguruan
tinggi, panti asuhan, panti jompo dan berbagai amal usaha yang lain merupakan
ciri keberadaan Muhammadiyah yang bergerak dinamis tiada henti.
Keteladanan yang dapat diambil dari KH. A. Dahlan antara lain :
a.
Semangat tinggi dalam belajar (beliau
menuntut ilmu sampai ke Mekkah).
b. Semangat tinggi dalam menghadapi berbagai
rintangan dihadapinya dengan sabar, keteguhan hati untuk melanjutkan cita-cita
dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air.
Mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari
nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.
2. KH.
Hasyim Asy'ari
Kyai Haji Mohammad Hasyim merupakan pendiri Nahdlatul
Ulama,
organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Beliau putra
ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis
ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka
Tingkir (Sultan
Pajang).
KH Hasyim Asyari
belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga
pemimpin Pesantren
Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau
berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain:
a. Pesantren Wonokoyo di Probolinggo
b.
Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang
c.
Pesantren Kademangan di Bangkalan
d.
Pesantren Siwalan di Sidoarjo
Pada tahun 1892, KH.
Hasyim Asyari pergi menimba ilmu ke Mekah, dan berguru pada Syeh Ahmad Khatib dan Syekh Mahfudh
at-Tarmisi. Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, KH Hasyim Asyari mendirikan Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi pesantren
terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Pada tahun 1926, KH Hasyim Asyari menjadi salah satu pemrakarsa
berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama.
Peran KH Hasyim Asyari dalam perkembangan Islam di Indonesia, antara lain: mendirikan Pesantren Tebu Ireng, menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama.
Sekilas tentang Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan
Islam), disingkat NU, adalah
sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak
di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.
Untuk menegaskan prisip dasar
organisasi ini, maka K.H. Hasyim Asy'ari merumuskan kitab
Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab
tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah
NU, yang
dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam
bidang sosial, keagamaan dan politik. Tujuan organisasi adalah menegakkan
ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan
masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan usaha organisasi, antara
lain:
1. Bidang agama, melaksanakan dakwah
Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat
persatuan dalam perbedaan.
2. Bidang pendidikan, menyelenggarakan
pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang
bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas. Hal ini terbukti dengan lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan
yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbagai daerah khususnya di Pulau
Jawa.
3. Bidang sosial budaya, mengusahakan
kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan
kemanusiaan.
4. Bidang ekonomi, mengusahakan
pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan
berkembangnya ekonomi rakyat. Hal
ini ditandai dengan lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah
terbukti membantu masyarakat.
5.
Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat
luas. NU berusaha
mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyrakat.
Keteladanan yang dapat diambil dari KH. Hasyim
Asyari, antara lain :
a.
Semangat tinggi dalam menuntut ilmu
(beliau belajar sampai ke Mekkah).
b.
Mensyiarkan Islam melalui pendidikan di Pesantren.
c.
Memprakarsai berdirinya Nadhlatul Ulama
(NU), yang berarti kebangkitan ulama.