Sabtu, 14 November 2020

Rangkuman Materi SKI MTs Kelas 9 Semester 1 (Buku K13 Lama)

SKI 9
BAB I

 

Masuknya Islam di Indonesia masih bisa diperdebatkan. Pengertian “masuk” antara lain dalam arti:

a.  sentuhan (ada hubungan dan ada pemukiman Muslim).

b.  sudah berkembang adanya komunitas masyarakat Islam.

c.  sudah berdiri kerajaan Islam.

Bukti masuknya Islam di Indonesi abad ke 7,11 dan 13

1. a. Seminar masuknya Islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalanan Al Mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.

b. Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China. Dll.

2.  Catatan perjalanan Marcopolo ( 1292 M ) dan beberapa sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan sudah adanya beberapa kerajaaan Islam di kawasan Indonesia

3.  Berita Ibnu Batutah

           Di Sumatra ditemukan batu nisan Sultan Malik al-Saleh yang bertulis Ramadhan 676 Hijriah (1297M). Malik al-Saleh adalah pengajar Tasawuf  juga Raja.

 

Bangsa Arab, Persia, India dan China memiliki andil besar dalam mensyiarkan dan mengembangkan Islam di Nusantara.

a.    Gujarat (India)

Pedagang Islam dari Gujarat, menyebarkan Islam dengan bukti-bukti antara lain :

1.    Ukiran batu nisan gaya Gujarat.

2.    Adat istiadat dan budaya India Islam.

b. Persia

Para pedagang Persia menyebarkan Islam dengan beberapa bukti antar lain :

1.    Gelar “Syah” bagi raja-raja di Indonesia.

2.    Pengaruh aliran “Wihdatul Wujud” (Syeh Siti Jenar).

3.    Pengaruh madzab Syi’ah (Tabut Hasan dan Husen).

c. Arab

Para pedagang Arab banyak menetap di pantai-pantai kepulauan Indonesia, dengan bukti antara lain:

1.    Menurut al Mas’udi pada tahun 916 telah berjumpa Komunitas Arab dari Oman, Hidramaut, Basrah, dan Bahrein untuk menyebarkan Islam di lingkungannya, sekitar Sumatra, Jawa, dan Malaka.

2.    Munculnya nama “kampung Arab” dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat, yang banyak mengenalkan Islam.

d. China

Para pedagang dan angkatan laut China (Ma Huan, Laksamana Cheng Ho/Dampo awan), mengenalkan Islam di pantai dan pedalaman Jawa dan Sumatera, dengan bukti antar lain:

1.    Gedung Batu di Semarang (masjid gaya China).

2.    Beberapa makam China muslim.

Beberapa wali yang dimungkinkan keturunan China.

 

BAB II

 

1.    Kerajaan Islam di Jawa

         a.     Kesultanan Demak atau Kesultanan Demak Bintara adalah kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478 dan tercatat menjadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya. Kesultanan Demak mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan di antara kerabat kerajaan. Salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang diperkirakan didirikan oleh para Walisongo. Lokasi ibukota Kesultanan Demak, yang pada masa itu masih dapat dilayari dari laut dan dinamakan Bintara, saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah.

        b.     Kesultanan Banten merupakan kerajaan Islam yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Menurut sumber Portugis, sebelumnya Banten merupakan salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda selain pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang), Sunda Kalapa dan Cimanuk. Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. Wilayah kekuasaannya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut kesultanan Mataram dan serta wilayah yang sekarang menjadi provinsi Lampung. Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi Lampung dikuasai oleh kesultanan Banten.

         c.     Kesultanan Mataram merupakan kerajaan Islam di Jawa yang didirikan oleh Sutawijaya, keturunan dari Ki Ageng Pemanahan yang mendapat hadiah sebidang tanah dari raja Pajang, Hadiwijaya, atas jasanya. Kerajaan Mataram pada masa keemasannya dapat menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya termasuk Madura serta meninggalkan beberapa jejak sejarah yang dapat dilihat hingga kini, seperti wilayah Matraman di Jakarta dan sistem persawahan di Karawang.

 

 

2. Kerajaan Islam di Sumetera

a. Kesultanan Samudera Pasai dikenal juga dengan Samudera Pasai, atau Samudera Darussalam, merupakan kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara sekarang. Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Malik al-Saleh, pada sekitar tahun 1267 dan berakhir dengan dikuasainya Pasai oleh Portugis pada tahun 1521. Raja pertama bernama Malik as-Saleh, kemudian dilanjutkan pemerintahannya oleh Malik at-Thahir. Setelah mati, ia digantikan oleh Sultan Mahmmud Malik az-Zahir.

b. Kesultanan Malaka merupakan kesultanan yang didirikan oleh Parameswara, seorang putera Sriwijaya yang melarikan diri dari perebutan Palembang oleh Majapahit. Pada 1402, dia mendirikan sebuah ibu kota baru, Melaka yang terletak pada penyempitan Selat Malaka. Pada 1414, dia berganti menjadi seorang Muslim dan menjadi Sultan Malaka. Kesultanan ini berkembang pesat menjadi sebuah entrepot dan menjadi pelabuhan terpenting di Asia Tenggara pada abad ke-15 dan awal 16. Kegemilangan yang dicapai oleh Kerajaan Melaka adalah daripada beberapa faktor yang penting. Diantaranya, Parameswara telah mengambil kesempatan untuk menjalinkan hubungan baik dengan negara Cina ketika Laksamana Yin Ching mengunjunginya.

c. Kesultanan Aceh merupakan kerajaan yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496. Diawal pemerintahannya wilayah Kesultanan Aceh berkembang hingga mencakup Daya, Deli, Pedir, Pasai, dan Aru. Pada tahun 1528, Ali Mughayat Syah digantikan oleh putera sulungnya yang bernama Salahuddin, yang kemudian berkuasa hingga tahun 1537. Kemudian Salahuddin digantikan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar yang berkuasa hingga tahun 1568. Kesultanan Aceh mengalami masa keemasan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636).

 

3. Kerajaan Islam di Sulawesi

a.  Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama Bate Salapang (Sembilan Bendera), yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa: Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili. Melalui berbagai cara, baik damai maupun paksaan, komunitas lainnya bergabung untuk membentuk Kerajaan Gowa. Masing-masing kerajaan tersebut membentuk persekutuan sesuai dengan pilihan masing-masing. Salah satunya adalah kerajaan Gowa dan Tallo membentuk persekutuan pada tahun 1528, sehingga melahirkan suatu kerajaan yang lebih dikenal dengan sebutan kerajaan Makasar. Nama Makasar sebenarnya adalah ibukota dari kerajaan Gowa dan sekarang masih digunakan sebagai nama ibukota propinsi Sulawesi Selatan.

b.    Faktor-faktor penyebab Kerajaan Gowa Tallo berkembang menjadi pusat perdagangan, sebagai berikut:

1. Letaknya strategis yaitu sebagai penghubung pelayaran Malaka dan Jawa ke Maluku.

2. Letaknya di muara sungai, sehingga lalu lintas perdagangan antar daerah pedalaman berjalan dengan baik.

 

3. Di depan pelabuhan terdapat gugusan pulau kecil yang berguna untuk menahan gelombang dan angin, sehingga keamanan berlabuh di pelabuhan ini terjamin.

4. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis mendorong para pedagang mencari daerah atau pelabuhan yang menjual belikan rempah-rempah.

5. Halauan politik Mataram sebagai kerajaan agraris ternyata kurang memperhatikan pemngembangan pelabuhan-pelabuhan di Jawa. Akibatnya dapat diambil alih oleh Makasar.

6. Kemahiran penduduk Makasar dalam bidang pelayaran dan pembuatan kapal besar jenis Phinisi dan Lambo.

 

4. Kerajaan Islam di Maluku

          Kerajaan Ternate dan Tidore, sebelah barat pulau Halmahera. Kerajaan ini terletak di kepulauan Maluku, di wilayah ini terdapat dua persekutuan yaitu:

a.    Ulilima (pulau Obi, Bacan, Seram,Ambon, Ternate pemimpinnya).

b.    Ulisiwa (pulau Makyan, Jailolo, dansekitar Irian Barat yang di pimpin oleh Tidore. Kehidupan politik kerajaan Ternate dan Tidore, merupakan adanya Persaingan antar Ulilima dan Ulisiwa bersaing menguasai Maluku.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Ternate dan Tidore:

a.    Ternate-Tidore berkembang sebagai kerajaan Maritim.

b.    Penghasil komoditi perdagangan rempah-rempah.

c.    Kedatangan pedagang Ternate, Jawa, Melayu,pedagang Arab.

Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Ternate dan Tidore:

1). Islam berkembang di Maluku,

2). Seni Bangunan Mesjid dan Istana Raja,

3). Agama Katolik juga berkembang,

4). Jumlah perahu (kora-kora),

5). Keanekaragaman agama.

 

BAB III

 

1. Walisongo

Walisongo merupakan nama sebuah dewan yang beranggotakan 9 orang. Anggotanya termasuk orang-orang pilihan dan oleh karena itu oleh orang jawa dinamakan wali. Istilah wali berasal dari bahasa arab aulia, yang artinya orang yang dekat dengan Allah Subhaanahu wa ta’aala karena ketakwaannya. Sedangkan istilah songo merujuk kepada penyebaran agama Islam ke segala penjuru. Orang jawa mengenal istilah kiblat papat limo pancer untuk menggambarkan segala penjuru, yaitu utara-timur-selatan-barat disebut keblat papat dan empat arah diantaranya ditambah pusat disebut limo pancer.


Perkembangan Islam di Jawa tidak dapat dipisahkan dari peranan para Wali. Walisongo" berarti sembilan orang wali" , diantara Nama-nama Walisongo tersebut antara lain:

1.  Maulana Malik Ibrahim

2.  Sunan Giri

3.  Sunan Bonang

4.  Sunan Ampel

5.  Sunan Drajat

6.  Sunan Muria

7.  Sunan Gunung Jati

8.  Sunan Kudus    

9.  Sunan Kalijaga

      

Para Wali berperan besar dalam pengembangan pewayangan di Indonesia. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Bahkan para wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain yaitu “Mana yang Isi (Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) dan mana yang harus dicari (Wayang Golek)”.

 

Di samping menggunakan wayang sebagai media dakwahnya, para wali juga melakukan dakwahnya melalui berbagai bentuk akulturasi budaya lainnya contohnya melalui penciptaan tembang-tembang keislaman berbahasa Jawa, gamelan, dan lakon islami.

 

2. Abdur Rauf Singkel

Abdur Rauf Singkel merupakan seorang ulama, penyair, budayawan, ulama besar, pengarang tafsir, ahli hukum, cendikiawan muslim dan seorang Sufi Melayu dari Fansur, Singkel, di wilayah pantai barat-laut Aceh. Nama lengkapnya Abd Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri as-Sinkili.

Pendidikan As-Sinkili di masa kecil ditangani oleh ayahnya-seorang alim yang mendirikan madrasah dengan murid-murid berasal dari pelbagai tempat di Kesultanan Aceh. Ia lantas pergi ke Banda Aceh untuk berguru kepada Syam ad-Din as-Samartrani. Pada tahun 1052/1642, as-Sinkili mengembara ke Tanah Haram untuk menambah pengetahuan agama sekaligus menunaikan ibadah haji.

As-Sinkili merupakan ulama yang sangat produktif. Tidak kurang dari 30 kitab dari pelbagai disiplin ilmu telah dihasilkan. Karya tulisnya yang diketahui lebih kurang dua puluh buah dalam berbagai bidang ilmu-sastra, hukum, filsafat, dan tafsir.

Karya-karya tulis Abdurrauf Singkel diklasifikasikan sebagai berikut:

a.    Bidang fiqh

1.    Mir’ah at-Tullâb fî Tashîl Ma’rifah al-Ahkâm asy-Syar’iyyah li al-Mâlik al-Wahhâb

2.    Bayân al-Arkân, Bidâyah al-Bâligah, dan sebagainya

b. Bidang tasawuf

1.  Umdah al-Muhtâjîn ilâ Sulûk Maslak al-Mufarridîn

2.  Daqâ’iq al-Hurûf

3.  Tanbîh al-Mâsyi al-Mansûb ilâ Tarîq al-Qusyasyi, dan sebagainya

c. Bidang hadits

1.  Syarh Latîf ‘ala ‘Arbain Hadîŝan lî al-Imâm an-Nawâwi

2.  al-Mawâ’iz al-Badî’ah

d. Bidang tafsir Al-Qur’an

1. Tarjumân al-Mustafîd bi al-Jâwwiyy.

Peran Abdurrauf Singkel dalam mensyiarkan Islam di Indonesia antara lain: menjadi pelajar yang gigih, menjadi ulama yang produktif dalam pelbagai disiplin ilmu dan membuat karya tulis dalam berbagai disiplin ilmu bidang ilmu-sastra, hukum, filsafat, dan tafsir.

Keteladanan yang dapat diambil dari Abdurrauf Singkel antara lain: semangat tinggi dalam belajar (beliau menuntut ilmu sampai ke Tanah Haram), Ulama yang sangat produktif (sebagai buktinya 30 kitab telah dihasilkan dari pelbagai disiplin ilmu dan Ahli dalam berbagai disiplin ilmu sebagai buktinya adanya karya tulis lebih kurang dua puluh buah dalam berbagai bidang ilmu-sastra, hukum, filsafat, dan tafsir.

3. Muhammad Arsyad al-Banjari

Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari (atau lebih dikenal dengan nama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang lahir di Lok Gabang, Astambul, Banjar, Kalimantan Selatan, 17 Maret 1710 – meninggal 3 Oktober 1812 pada umur 102 tahun) adalah ulama fiqih mazhab Syafi'i yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Beliau pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi para pemeluk agama Islam di Asia Tenggara.

Pendidikannya ketika kecil tidak begitu jelas, tetapi pendidikannya dilanjutkan ke Mekkah dan Madinah. Di Mekkah sekitar 30 tahun dan di Madinah sekitar 5 tahun. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari mendapat pendidikan penuh di Istana sampai usia 30 tahun. Kemudian ia dikawinkan dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut. Hasil perkawinan tersebut ialah seorang putri yang diberi nama Syarifah.

Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad belajar kepada masyaikh terkemuka pada masa itu,  di antara guru beliau adalah:

a.    Syekh ‘Athoillah bin Ahmad al-Mishry,

b.    al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi 3.

c.    al-‘Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani merupakan guru Muhammad Arsyad di bidang tasawuf, dimana di bawah bimbingannya Muhammad Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai khalifah.

Kitab karya Syekh Muhammad Arsyad yang paling terkenal ialah Kitab Sabilal Muhtadin, atau selengkapnya adalah Kitab Sabilal Muhtadin lit-tafaqquh fi amriddin, yang artinya "Jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan-urusan agama". Syekh Muhammad Arsyad telah menulis untuk pengajaran serta pendidikan, beberapa kitab serta risalah lainnya, diantaranya:

a.    Kitab Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Dua puluh,

b.    Kitab Tuhfatur Raghibin, yaitu kitab yang membahas soal-soal itikad serta perbuatan yang sesat,

c.    Kitab Nuqtatul Ajlan, yaitu kitab tentang wanita serta tertib suami-isteri,

d.   Kitabul Fara-idl, semacam hukum-perdata.

Peran Muhammad Arsyad al-Banjari dalam perkembangan Islam di  Indonesia, antara lain:

a.    Sebagai orang yang gigih dalam menuntut ilmu sampai ke Mekkah dan Madinah

b.    Sebagai pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan  bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara.

c.    Mensyiarkan Islam sampai ke Asia Tenggara.

Keteladanan yang dapat diambil dari Muhammad Arsyad al-Banjari, antara lain :

a.    Semangat tinggi dalam menuntut ilmu.

b.    Rajin dalam menulis buku

Mensyiarkan Islam sampai ke Asia Tenggara.

 

Peran KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari

1.    KH. Ahmad Dahlan

KH. Ahmad Dahlan  merupakan Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.

Silsilah beliau termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). Pada umur 15 tahun, beliau pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.

Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, beliau sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, K.H. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.

Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah.

KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut:

a.    KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat;

b.    Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam;

c.    Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan

d.   Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.

Peran KH. A. Dahlan  dalam perkembangan Islam di Indonesia, antara lain:

a.    Mendirikan organisasi Muhammadiyah

b.    Mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.

c.    Memiliki gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota.

d.   Mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta.

e.    Mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.

          Sekilas tentang Muhammadiyah,  Muhammadiyah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia dengan membawa al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad. Muhammadiyah, begitu orang kebanyakan menyebut, merupakan sebuah gerakan sosial-agama yang mampu membumikan makna Islam pada tataran kultural, rasional dan dinamis. Amal usaha nya telah banyak terlihat sebagai bukti adanya organisasi Muhammadiyah. Masjid, Rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, panti asuhan, panti jompo dan berbagai amal usaha yang lain merupakan ciri keberadaan Muhammadiyah yang bergerak dinamis tiada henti.

Keteladanan yang dapat diambil dari KH. A. Dahlan  antara lain :

a.     Semangat tinggi dalam belajar (beliau menuntut ilmu sampai ke Mekkah).

b.    Semangat tinggi dalam menghadapi berbagai rintangan dihadapinya dengan sabar, keteguhan hati untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air.

Mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.

2. KH. Hasyim Asy'ari

Kyai Haji Mohammad Hasyim merupakan pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Beliau putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).

  KH Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain:

a.    Pesantren Wonokoyo di Probolinggo

b.    Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang

c.    Pesantren Kademangan di Bangkalan

d.   Pesantren Siwalan di Sidoarjo

           Pada tahun 1892, KH. Hasyim Asyari pergi menimba ilmu ke Mekah, dan berguru pada Syeh Ahmad Khatib dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi. Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, KH Hasyim Asyari mendirikan Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Pada tahun 1926, KH Hasyim Asyari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama.

Peran KH Hasyim Asyari dalam perkembangan Islam di Indonesia, antara lain: mendirikan Pesantren Tebu Ireng, menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama.

Sekilas tentang Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Untuk menegaskan prisip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasyim Asy'ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik. Tujuan organisasi adalah menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan usaha organisasi, antara lain:

1.    Bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.

2.    Bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas. Hal ini terbukti dengan lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa.

3.    Bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.

4.    Bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat. Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah terbukti membantu masyarakat.

5.    Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyrakat.

Keteladanan yang dapat diambil dari KH. Hasyim Asyari, antara lain :

a.    Semangat tinggi dalam menuntut ilmu (beliau belajar sampai ke Mekkah).

b.    Mensyiarkan Islam melalui pendidikan di Pesantren.

c.    Memprakarsai berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama.


Admin Bawean

Mochamad Muslih's Blog