BAB I
Keruntuhan Dinasti Bani Umayyah pada tahun 750 M, menjadi tonggak awal berdirinya kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah. Khalifah pertama dari Dinasti ini adalah Abdullah As- Saffah bin Muhammad bin Ali Bin Abdulah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Dinamakan Dinasti Bani Abbasiyah karena para pendiri dan khalifah dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas ibn Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad saw. Masa kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s/d 656 H (1258).
Dari 37 khalifah Dinasti Bani Abbasiyah, terdapat beberapa orang khalifah yang terkenal, di antaranya Abu Ja’far Al-Mansur, Harun Ar-Rasyid dan Al-Makmun.
Al-Mansur merupakan khalifah kedua, merupakan khalifah yang menetapkan dasar-dasar pemerintahan Daulat Bani Abbas.Masa pemerintahan Abu Ja’far Al-Mansur merupakan masa awal perkembangan ilmu pengetahuan yang merupakan cikal bakal perkembangan kejayaan Abbasyiah di masa pemerintahan setelahnya. Kota Baghdad yang dibangunya menjadi ibu kota Dinasti Abbasiyah dan selain merupakan pusat perdagangan juga kebudayaan dan ilmu pengtahuan. Baghdad dianggap sebagai kota terpenting di dunia dan menjadi salah satu pusat peradaban dunia.
Pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Khalifah Al-Makmun, peradaban Islam mencapai masa keemasan. Kebudayaan India dan Yunani juga telah memberi sumbangan yang berarti bagi perkembangan kebudayaan Islam. Kota-kota Jundisapur, Harran, dan Iskandariyah adalah pusat-pusat peradaban Yunani sebelum Islam. Setelah Islam datang tradisi keilmuwan Yunani terjaga bahkan mengalami perkembangan yang semakin pesat. Beberapa sastrawan dan budayawan yang muncul pada masa itu adalah Ibnu Maskawaih dan Al-Kindi.
Al-Mansur, Harun Ar-Rasid dan Al-Makmunmerupakan masa-masa keemasan peradaban Islam. Para khalifah agung tersebut dikenal sebagai penguasa adil dan bijaksana serta memiliki perhatian dan kecintaan yang kuat terhadap ilmu pengetahuan. Dukungan dan kegigihan mereka dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pengembangan perdaban Islam tercermin dalam berbagai kebijakan pemerintahannya.
BAB II
Bani Abbasiyah adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad. Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Periode Abbasiyah adalah era baru dengan simbol kemajuan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dengan berbagai bidangnya, termasuk science, tingginya peradaban, dan kultur pada zaman ini bukan hanya identik dengan ke-emasan Islam saja melainkan era ini mengukur dengan gemilang kemajuan peradaban dunia.
Kemajuan ilmu pengetahuan diawali dengan penerjemahan naskah-naskah asing terutama yang berbahasa Yunani kedalam bahasa Arab, pendirian pusat pengembangan ilmu dan perpustakaan Bait al-Hikmah, dan terbentuknya mazhab-mazhab ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berpikir
Bait al-Hikmah menjelma sebagai pusat kegiatan intelektual yang tidak tertandingi dimana penelitian ilmu-ilmu sosial maupun sains, meliputi metematika, astronomi, kedokteran, kimia, zoologi, geografi dan lain-lain dilakukan. Melalui lembaga ini pula berbagai buku penting (ummahat al-kutub) warisan peradaban pra-Islam (Persia, India dan Yunani) diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, seperti buku-buku
Pythagoras,
Plato, Aristoteles,
Hippocrates,
Euclid,
Plotinus,
Galen,
Sushruta,
Charaka,
Aryabhata maupun
Brahmagupta. Tidak heran Philip K. Hitti, ahli sejarah Arab menyatakan bahwa Bait al-Hikmah merupakan lembaga keilmuan paling penting yang pernah dibangun peradaban manusia setelah Perpustakaan Alexandria yang didirikan sekitar paruh pertama abad ketiga sebelum Masehi. Dengan gerakan penerjemahan ini Baghdad menjadi sebuah kota yang mengoleksi berbagai karya keilmuan yang sangat agung.
Dinasti Bani Abasyiah, yang berkuasa lebih dari lima abad, sejak 132-656 H/750-1258 M, merupakan dinasti Islam yang memberikan sumbangan besar bagi kegemilangan peradaban Islam khususnya dan peradaban dunia umumnya. Dengan dukungan para khalifah yang memiliki kecintaan dan perhatian besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban, melahirkan banyak ilmuan dan para ulama cemerlang yang karya-karyanya abadi sepanjang sejarah sekaligus membuktikan bahwa peradaban dan kebudayaan Islam memberi sumbangan besar bagi peradaban dunia. Diantara para ilmuwan, antara lain, Jabir bin Hayyan, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan, Ibnu Miskawaih. Sedangkan para ulama yang pandangan-pandangan keagamaannya menjadi rujukan umat muslimin di seluruh dunia antara lain ulama kutubussittah, empat imam Madzhab dan mufassirin sekaligus sejarawan seperti At-Tabari dan Ibnu Katsir.
BAB III
Dinasti Bani Abbasiyah berkuasa lebih dari lima abad, kurang lebih 508 tahun sejak 132-656 H/750-1258 telah banyak memberikan sumbangan besar bagi pengembangan peradaban dan kebudayaan Islam. Kegiatan keilmuan yang kreatif, dinamis, dan kritis serta keberadaan para ilmuwan dan ulama yang melahirkan karya-karya monumental ditambah dukungan penuh dari kebijakan-kebijakan khalifah menjadi kunci bagi keberhasilan pengembangan keilmuan sekaligus tercapainya peradaban dan kebudayaan yang gemilang. Diantara kemajuan-kemajuan tersebut meliputi berbagai bidang, meliputi hampir seluruh aspek kehidupan mulai dari kemajuan di bidang politik dan pemerintahan, kemajuan di bidang sosial budaya, kemajuan ekonomi dan pertanian, kemajuan pengetahun dan teknologi dan kemajuan ilmu-ilmu keagamaan. Kemajuan-kemajuan tersebut melahirkan berbagai bentuk-bentuk wujud kebudayaan yang kemudian menjadi bukti pencapaian kemajuan peradaban dan kebudayaan Islam. Kebesaran dan keindahan wujud kebudayaan tersebut masih bisa dilihat dan dinikmati sepanjang sejarah bahkan sampai hari ini. Diantaranya seni bangunan dan arsitektur, baik untuk bangunan istana, masjid, maupun bangunan kota. Istana Qashrul Dzahabi, Qashrul Khuldi, masjid agung Samara, masji Ibn Thulun dan pembangunan kota Baghdad dan kota Samara. Keindahan kebudayaan lainnya tercermin pada bidang sastra, bahasa dan seni musik. Sastrawan dan budayawan terkenal Abu Nawas, Abu Athahiyah, Al Mutanabby, Abdullah bin Muqaffa dan lain-lain. Karya dan buah pikiran mereka masih dapat dibaca hingga kini, seperti kitab Kalilah wa Dimna. Sementara dalam bidang musik yang sampai kini karyanya juga masih dipakai adalah Yunus bin Sulaiman, Khalil bin Ahmad, Al-Farabi dan lain-lain.
Selain bidang-bidang tersebut diatas, kemajuan dalam bidang pengembangan pengetahuan dan keilmuan tercermin pada pendirian lembaga-lembaga pendidikan, perpustakaan, majlis kajian agama, dan lain-lain.